Kontinuitas didalam Laporan Keuangan yang dikonsolidasikan

Laporan keuangan konsolidasi diperlukan apabila salah satu perusahaan yang bergabung memiliki kontrol terhadap perusahaan lain, dan sebaliknya laporan keuangan konsolidasi tidak diperlukan apabila satu perusahaan tidak memiliki kontrol terhadap perusahaan lain. Artinya,  jika tidak memiliki hak kendali (control) yang lebih, maka mereka adalah badan usaha mandiri, artinya mereka masing-masing akan membuat laporan keuangan yang sendiri-sendiri dan tidak mungkin untuk digabungkan, ditambahkan atau yang sejenisnya. Jadi, tidak ada maksud untuk membuat sebuah laporan keuangan konsolidasi.

 Kontinuitas didalam Laporan Keuangan yang Dikonsolidasikan

Adanya kontinuitas yang dimaksud adalah saldo rekening-rekening yang tercantum dalam neraca konsolidasi pada suatu saat merupakan kelanjutan dari pada saldo rekening-rekening sama dalam neraca konsolidasi yang disusun pada akhir periode sebelumnya. Atau dapat diusut kembali melalui berbagai mutasi yang telah terjadi sebagai akibat transaksi dalam perusahaan afiliasi untuk periode akuntansi yang bersangkutan ke saldo rekening-rekening yang sama dalam neraca konsolidasi pada akhir periode sebelumnya.

Review Jurnal Analisis Sumber dan Penggunaan Modal Kerja

A. Identitas jurnal

Jurnal ilmiah ini berjudul Analisis Sumber dan Penggunaan Modal Kerja pada Modal kerja. Jurnal ilmiah ini berasal dari jurnal ilmiah ranggagading yang ditulis oleh Nusa Muktiaji dan Lia. Volume jurnal : 12 No. 1, April 2012. Dengan rentang halaman 20-27.

B. Latar belakang

Laporan keuangan yang diterbitkan perusahaan merupakan hasil dari proses manajemen yang memiliki karakteristik dan keterbatasan. Analisis terhadap laporan keuangan perusahaan sangat bermanfaat untuk mengetahui keadaan dan perkembangan keuangan perusahaan.

Salah satu analisis laporan keuangan adalah analisis laporan sumber dan penggunaan modal kerja yang cakupannya berisi darimana sumber dana yang diperoleh dan penggunaan modal kerja perusahaan. Modal kerja adalah dana yang harus tersedia dalam suatu perusahaan yang digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan.Laporan sumber dan pengunaan modal kerja ini bermanfaat bagi manajer dalam merencanakan penggunaan dana untuk menghindari hal yang tidak diinginkan perusahaan.

Laporan analisis ini digunakan agar perusahaan dapat menilai posisi penggunaan modal kerjanya. Salah satu alat analisis yang digunakan adalah analisis rasio. Dari analisis rasio ini diharapkan manajer dapat menilai efisiensi dari modal kerja yang digunakan selama menjalankan operasional perusahaan.

C. Tujuan

Tujuan penulisan jurnal ini adalah untuk mengetahui penyebab terjadinya perubahan modal kerja yang menggambarkan sumber – sumber dari mana modal kerja diperoleh serta seberapa besar sumber dana modal kerja digunakan.

D. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan sifat sesuatu yang sedang berlangsung. Metode ini terdiri dari beberapa sumber data yaitu 1. Perbandingan dengan perusahaan lain 2. Dengan menggunakan analisis rasio keuangan.

E. Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan tabel dapat disimpukan bahwa laporan sumber dan penggunaan modal yang baik lebih cenderung ke PT. Indosat Tbk karena laporan sumber dan penggunaan modal yang dihasilkan lebih besar dari PT. XL Axiata Tbk. Hal ini berarti PT. Indosat mampu mengoperasikan kegiatan operasionalnya dengan baik.

Laporan sumber dan penggunaan modal kerja

PT. Indosat Tbk dan PT. XL Axiata Tbk

Tahun

PT. Indosat

PT. XL Axiata

2006 Rp               5.296.761 Rp              7.336.104
2007 Rp             12.194.680 Rp               7.741.851
2008 Rp             11.935.728 Rp             14.629.906
2009 Rp             10.659.750 Rp               9.603.270
2010 Rp             9.251.865 Rp               5.083.788

Jadi untuk tabel dibawah ini dapat disimpulkan bahwa diantara kedua perusahaan sama-sama menghasilkan modal kerja yang negatif. Ini berarti perusahaan tidak mampu memenuhi kegiatan operasionalnya sehingga hasilnya tiap tahun negatif.

Modal kerja PT. Indosat dan PT. XL

Tahun

PT. Indosat

PT. XL

2006 Rp       (1.137.773) Rp     (1.116.804)
2007 Rp           (864.454) Rp     (5.340.227)
2008 Rp          (983.472) Rp     (2.477.016)
2009 Rp       (5.928.495) Rp     (4.001.605)
2010 Rp       (5.787.999) Rp     (2.335.016)

 F. Kesimpulan

Laporan sumber dan penggunaan modal kerja PT. Indosat dan PT. Xl saling berhubungan, ini dilihat dari adanya peningkatan dan penurunan yang terjadi setiap tahunnya. Jika laporan sumber dan penggunaan modal kerja mengalami kenaikan maka modal kerjanya pun mengalami kenaikan, begitu pun sebaliknya.

Analisis Sumber dan Penggunaan Modal Kerja

PT. COLOMBUS

LAPORAN NERACA

31 DESEMBER 2011- 31 DESEMBER 2012

Keterangan

31/12/2011

31/12/2012

AKTIVA    
Kas Rp         55.555.000 Rp         32.234.000
Efek Rp         78.987.000 Rp         58.996.000
Piutang dagang Rp         65.432.000 Rp         88.864.000
Persediaan Rp         70.707.000 Rp       137.373.000
Mesin Rp       246.810.000 Rp       301.131.000
Akumulasi depresiasi mesin Rp       (67.898.000) Rp   (100.021.000)
Bangunan Rp       345.678.000 Rp       422.221.000
Akumulasi depresiasi bangunan Rp       (98.765.000) Rp     (119.977.000)
Tanah Rp       303.493.000 Rp       316.963.000
TOTAL AKTIVA Rp       999.999.000 Rp   1.137.784.000
     
PASIVA    
Hutang dagang Rp         44.444.000 Rp         83.411.000
Hutang wesel Rp         59.595.000 Rp         89.988.000
Obligasi Rp       332.075.000 Rp       361.411.000
Modal saham Rp       291.046.000 Rp       296.802.000
Laba ditahan Rp       272.839.000 Rp       306.172.000
TOTAL PASIVA Rp       999.999.000 Rp     1.137.784.000

 

Jumlah deviden yang dibagikan adalah sebesar Rp. 17.244.000. Diketahui laba operasi yang diperoleh adalah sebesar Rp. 50.577.000.

 

 

PT. COLOMBUS

LAPORAN PERUBAHAN NERACA

31 DESEMBER 2011- 31 DESEMBER 2012

Keterangan

31/12/2011

31/12/2012

Perubahan

Debit

Kredit

AKTIVA        
Kas Rp         55.555.000 Rp         32.234.000   Rp         23.321.000
Efek Rp         78.987.000 Rp         58.996.000   Rp         19.991.000
Piutang dagang Rp         65.432.000 Rp         88.864.000 Rp         23.432.000  
Persediaan Rp         70.707.000 Rp       137.373.000 Rp         66.666.000  
Mesin Rp       246.810.000 Rp       301.131.000 Rp         54.321.000  
Akumulasi depresiasi mesin Rp       (67.898.000) Rp     (100.021.000)   Rp         32.123.000
Bangunan Rp       345.678.000 Rp       422.221.000 Rp         76.543.000  
Akumulasi depresiasi bangunan Rp       (98.765.000) Rp     (119.977.000)   Rp         21.212.000
Tanah Rp       303.493.000 Rp       316.963.000 Rp         13.470.000  
TOTAL AKTIVA Rp       999.999.000 Rp   1.137.784.000    
         
PASIVA        
Hutang dagang Rp         44.444.000 Rp         83.411.000   Rp         38.967.000
Hutang wesel Rp         59.595.000 Rp         89.988.000   Rp         30.393.000
Obligasi Rp       332.075.000 Rp       361.411.000   Rp         29.336.000
Modal saham Rp       291.046.000 Rp       296.802.000   Rp           5.756.000
Laba ditahan Rp       272.839.000 Rp       306.172.000   Rp         33.333.000
TOTAL PASIVA Rp       999.999.000 Rp     1.137.784.000 Rp     234.432.000 Rp       234.432.000

 

PT. COLOMBUS

LAPORAN SUMBER DAN PENGGUNAAN DANA DALAM ARTIAN KAS

31 DESEMBER 2011 – 31 DESEMBER 2012

Sumber

Jumlah

Penggunaan

Jumlah

Laba operasi Rp       50.577.000 Cash deviden Rp         17.244.000
Kas Rp       23.321.000 Piutang dagang Rp         23.432.000
Efek Rp       19.991.000 Persediaan Rp         66.666.000
Depresiasi Rp       53.335.000 Mesin Rp         54.321.000
Hutang dagang Rp       38.967.000 Bangunan Rp         76.543.000
Hutang wesel Rp       30.393.000 Tanah Rp         13.470.000
Obligasi Rp    29.336.000    
Modal saham Rp       5.756.000    
Jumlah Rp     251.676.000 Jumlah Rp       251.676.000
Analisa:

Dari laporan sumber dan penggunaan dana tersebut dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2012 penggunaan dana yang paling signifikan terlihat adalah untuk persediaan, mesin, dan bangunan.

 

 

PT. COLOMBUS

LAPORAN PERUBAHAN MODAL KERJA

31 DESEMBER 2011 – 31 DESEMBER 2012

Unsur- unsur modal kerja

31/12/2011

31/12/2012

AKTIVA LANCAR    
Kas Rp       55.555.000 Rp           32.234.000
Efek Rp       78.987.000 Rp           58.996.000
Piutang dagang Rp       65.432.000 Rp           88.864.000
Persediaan Rp       70.707.000 Rp         137.373.000
TOTAL AKTIVA LANCAR Rp     270.681.000 Rp         317.467.000
   
HUTANG LANCAR    
Hutang dagang Rp       44.444.000 Rp           83.411.000
Hutanng wesel Rp       59.595.000 Rp           89.988.000
TOTAL HUTANG LANCAR Rp     104.039.000 Rp         173.399.000
   
Bertambahnya modal kerja Rp     166.642.000 Rp         144.068.000
Perubahan modal kerja Rp           22.574.000

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa terjadi pengurangan modal kerja dari tahun 2011 ke tahun 2012 yaitu sebesar Rp 22.574.000. Dengan rincian modal kerja tahun 2011 dan 2012 masing-masing Rp 166.642.000 dan Rp 144.068.000 .

 

 

PT. COLOMBUS

LAPORAN SUMBER DAN PENGGUNAAN DANA DALAM MODAL KERJA

31 DESEMBER 2011 – 31 DESEMBER 2012

Sumber

Jumlah

Penggunaan

Jumlah

Laba operasi Rp       50.577.000 Cash deviden Rp         17.244.000
Depresiasi Rp       53.335.000 Mesin Rp         54.321.000
Obligasi Rp       29.336.000 Bangunan Rp         76.543.000
Modal saham Rp       5.756.000 Tanah Rp         13.470.000
Modal kerja Rp       22.574.000    
Jumlah Rp     161.578.000 Jumlah Rp       161.578.000

Analisa:

Karena jumlah penggunaan > sumber yaitu sebesar Rp 22.574.000, maka dana sebesar Rp 22.574.000 mempunyai efek negatif terhadap modal kerja dan ini berarti telah terjadi penurunan   modal kerja sebesar Rp 22.574.000 .

 

Konsolidasi Pemilikan Tidak Langsung Dan Saling Memiliki Saham

  • Pemilikan Tidak Langsung

Suatu perusahaan yang memiliki hubungan afiliasi bertingkat yang terdiri dari Perusahaan induk-Perusahaan sub induk-Perusahaan anak. Pada hubungan afiliasi tersebut dapat dipahami bahwa Perusahaan induk sudah pasti memiliki hak control terhadap perusahaan anak yang diperoleh dari pemilikan saham tidak langsung.

  • Saling Memiliki Saham

Hubungan afiliasi akan semakin kompleks jika antar perusahaan induk dan perusahaan anak terjadi saling memiliki saham. Perusahaan induk satu pihak memiliki saham-saham perusahaan anak dan dipihak lain perusahaan anak juga memiliki sebagian saham-saham perusahaan induk. Apabila hal ini terjadi maka laba (rugi) dan atau kenaikan (penurunan) saldo laba yang ditahan selama terjadinya saling  pemilikan dari perusahaan-perusahaan afiliasi akan saling mempengaruhi satu sama lain.

Satu hal yang perlu diperhatikan di sini ialah bahwa, terhadap saham-saham perusahaan induk yang dimiliki oleh perusahaan anak tidak boleh diperlakukan sebagai modal saham yang beredar di dalam neraca yang dikonsolidasi. Di dalam neraca konsolidasi hak-hak pemilikan saham oleh perusahaan anak atas perusahaan induk harus dieliminasi.Adapun prosedur eliminasinya dilakukan dengan cara yang sama terhadap hak pemilikan perusahaan induk pada perusahaan anak.

  • Hak control yang diperoleh dengan pemilikan tidak secara langsung:
  1. Pemilikan saham-saham perusahaan anak, terjadi sesudah adanya hak control oleh perusahaan induk pada perusahaan sub induk.
  2. Pemilikan saham-saham perusahaan anak, terjadi sebelum adanya kontrol oleh perusahaan induk pada perusahaan sub induk.
  3. Hak control yang diperoleh dengan adanya hubungan afiliasi di antara perusahaan-perusahaan (anak).
  • Mutual atau reciprocal holdings dengan pemilikan saham perusahaan anak terjadi setelah perusahaan berjalan

Pengertian dan Pengaruh Adanya Perubahan Hak Pemilikan

          Pengertian dan Pengaruh Adanya Perubahan Hak Pemilikan

        Penggabungan usaha merupakan usaha menggabungkan suatu perusahaan dengan satu atau lebih perusahaan lain dalam satu kesatuan ekonomi. Faktor-faktor yang harus diperhitungkan di dalam memilih dasar yang akan dipakai untuk menentukan besarnya kontribusi dari masing-masing perusahaan yang mengadakan penggabungan usaha, adalah:

                   a. Penggabungan perusahaan dengan mengeluarkan satu jenis modal saham

                   b. Penggabungan perusahaan dengan mengeluarkan dua atau lebih jenis modal saham.

       Kepemilikan perusahaan induk atau investor pada perusahaan anak berubah sebagai akibat perusahaan anak menjual saham tambahan atau perusahaan anak menjual saham miliknya sendiri. Pengaruh aktivitas-aktivitas tersebut pada perusahaan induk tergantung pada harga saat saham tambahan tersebut dijual atau saham diperoleh kembali dengan dibeli. Perubahan dalam saldo rekening investasi saham-saham perusahaan anak dalam hal ini tidak disebabkan oleh perubahan nilai investasi seperti halnya pada metode equity.Tetapi perubahan itu disebabkan oleh bertambah atau berkurangnya jumlah relative (prosentage) pemilikan saham dari jumlah saham- saham perusahaan anak. Perubahan- perubahan semacam ini tidak saja disebabkan oleh pemilikan saham perusahaan anak yang dilakukan secara bertahap, akan tetapi banyak hal yang mengakibatkan perubahan yang serupa.

 

            Hal yang Menyebabkan Perubahan Hak Kepemilikan

             Hal yang menyebabkan perubahan hak pemilikan dan pengaruhnya terhadap neraca konsolidasi:

  1. Pembelian saham-saham perusahaan anak dilakukan lebih dari satu kali, akan tetapi hak kontrol diperoleh sejak saat pembelian saham tahap pertama.
  2. Pembelian saham-saham perusahaan anak dilakukan lebih dari satu kali, dan hak kontrol diperoleh baru sesudah bebarapa tahap pembelian saham.
  3. Pembelian dan penjualan kembali sebagian dari saham perusahaan anak, yang dimiliki oleh perusahaan induk.
  4. Emisi saham dan penarikan kembali saham-saham perusahaan anak yang mempengaruhi hak pemilikan perusahaan induk.
  5. Transaksi-transaksi saham yang ditarik dari peredaran (treasury stock) pada perusahaan anak.

Analisis Ratio Keuangan

laporan keuangan PT. INDOFOOD

Data diambil dari Laporan Keuangan Bulan September 2013 PT. INDOFOOD

         1. Rasio likuiditas

              – Current ratio = harta lancar / hutang lancar

                                           = 32.203.937 / 19.776.619

                                           = 1,62838

                                           = 1,6 x 100%

                                           = 160% atau 1,6 x

         –  Quick ratio     = (harta lancar – persediaan) / hutang lancar

                                      = (32.203.937 – 7.832.725) / 19.776.619

                                      = 24.371.212 / 19.776.619

                                      = 1,232324

                                      = 1,2 x 100%

                                      = 120% atau 1,2 x

            –  Cash ratio       = kas / hutang lancar

                                         = 14.984.805 / 19.776.619

                                         = 0,7577

                                         = 0,8 x 100%

                                         = 80% atau 0,8 x

  1. Rasio leverage

              – Total debt to equity ratio   = (hutang lancar + hutang jk. Panjang) / modal

                                                                   = (19.776.619 + 15.157.127) / 38.579.044

                                                                   = 34.933.748 / 38.579.044

                                                                   = 0,905

                                                                   = 0,9 x 100%

                                                                  = 90% atau 0,9 x

              – Long term dept to equity ratio = hutang jk. Panjang / modal

                                                                                = 15.157.127 / 38.579.044

                                                                                = 0,392

                                                                                = 0,4 x 100%

                                                                                = 40% atau 0,4 x

               – Time interest earned ratio     = EBIT / bunga

                                                                            = 4.765.274 / 374.106

                                                                            = 12,737

                                                                            = 13 x

              –  Debt to total assets ratio       = total hutang / total harta

                                                                           = 34.933.748 / 73.512.792

                                                                           = 0,475

                                                                           = 0,475 x 100%

                                                                           = 47,5%

  1. Rasio aktivitas

             –  Total assets turn over       = penjualan / total harta

                                                                    = 41.279.123 / 73.512.792

                                                                    = 0,5615

                                                                    = 0,6 x

            –  Fixed assets turn over      = penjualan / harta tetap

                                                                    = 41.279.123 / 41.308.855

                                                                    = 0,999

                                                                    = 1 x

           –  Average collection period = (piutang / penjualan) x 360 hari

                                                                  = (5.515.480 / 41.279.123) x 360 hari

                                                                  = 0,1336 x 360 hari

                                                                  = 48,1 hari

             –  Inventory turn over         = hpp / persediaan

                                                                   = 31.251.763 / 7.832.725

                                                                   = 3,989

                                                                   = 4 x

             –  Average days inventory       = (persediaan / hpp) x 360 hari

                                                                     = (7.832.725 / 31.251.763) x 360 hari

                                                                     = 0,2506 x 360 hari

                                                                     = 90,2 hari

             – Working capital turn over   = (penjualan – hpp) / penjualan

                                                                  = (41.279.123 – 31.251.763) / 41.279.123

                                                                  = 10.027.360 / 41.279.123

                                                                  = 0,24 x

             –  Receivable turn over         = penjualan / piutang

                                                                     = 41.279.123 / 5.515.480

                                                                     = 7,4842

                                                                     = 7,5 x

  1. Ratio profibilitas

              –  Gross profit margin       = laba kotor / penjualan

                                                                 = 10.027.360 / 41.279.123

                                                                 = 0,2429

                                                                 = 24,3%

              –  Profit margin                   = laba bersih / penjualan

                                                                = 3.671.210 / 41.279.123

                                                                = 0,089

                                                                = 8,9%

             – Operating profit margin = EBIT / penjualan

                                                                 = 4.765.274 / 41.279.123

                                                                 = 0,115

                                                                 = 11,5%

               – Earning power          = persediaan / penjualan

                                                         = 7.832.725 / 41.279.123

                                                         = 0,1897

                                                         = 19%

Cara Mengatasi Fraud Dalam Laporan Keuangan

Fraud dalam kegiatan sehari-hari dikenal sebagai salah satu tindak “kecurangan” yang dilakukan seseorang/golongan yang digunakan untuk memperkaya diri sendiri. Fraud bisa terjadi di berbagai jenis, bentuk, skala operasi dan kegiatan organisasi apapun. Disatu sisi pelaku Fraud mengambil keuntungan untuk dirinya dan disisi lain ia merugikan. Merugikan dalam arti menghancurkan reputasi organisasi, menimbulkan kerugian organisasi, menyebabkan kerugian keuangan negara, berdampak pada rusaknya moril karyawan, serta dampak-dampak lain yang menyebabkan timbulnya kerugian akibat Fraud.

Menurut definisi dari The Institute of Internal Auditor (“IIA”), yang dimaksud dengan Fraud adalah “An array of irregularities and illegal acts characterized by intentional deception”: sekumpulan tindakan yang tidak diizinkan dan melanggar hukum yang ditandai dengan adanya unsur kecurangan yang disengaja.

Webster’s New World Dictionary mendifenisikan Fraud sebagai suatu pembohongan atau penipuan (deception) yang dilakukan demi kepentingan pribadi, sedangkan International Standards of Auditing seksi 240 – The Auditor’s Responsibility to Consider Fraud in an Audit of Financial Statement paragraph 6 mendefenisikan Fraud sebagai “…tindakan yang disengaja oleh anggota manajemen perusahaan, pihak yang berperan dalam governance perusahaan, karyawan, atau pihak ketiga yang melakukan pembohongan atau penipuan untuk memperoleh keuntungan yang tidak adil atau illegal”.

Fraud terjadi tentu karena adanya suatu motif ataupun keinginan tertentu pelaku agar dapat terwujud dengan melakukan tindakan tersebut. Pada intinya Fraud dilakukan dengan cara-cara yang ilegal. Motif melakukan Fraud diantaranya:

1. Insentif atau tekanan untuk melakukan fraud

Pelaku mendapat tekanan dari pihak tertentu untuk mengubah sesuatu yang seharusnya tidak boleh dirubah. Tekanan itu bisa muncul dari dalam perusahaan, misalnya atasan pada bawahan. Ataupun dari luar perusahaan seperti karena masalah keuangan pribadi, sehingga memunculkan motif untuk melakukan fraud.

2. Peluang untuk melakukan fraud

Pelaku fraud mendeteksi adanya peluang untuknya melakukan fraud saat pihak perusahaan lengah pada pengendalian internal.

3. Sikap atau rasionalisasi untuk membenarkan tindakan fraud

Pelaku fraud membenarkan tindakannya dengan alasan jika melakukan “fraud” maka akan memberikan dampak yang menguntungkan untuk satu pihak. Misalnya menguntungkan untuk pihak perusahaannya.

Kecurangan yang dikenal sebagai Fraud, tenyata memiliki cabang-cabang utama diantarnya corruption (korupsi), Asset Misappropriation (penjarahan kekayaan perusahaan atau lembaga), Fraudulent Statement (fraud yang dilakukan dengan menggunakan cara-cara akuntansi seperti earning managemen dan windows dressing), dan cybercrime (fraud yang paling canggih dan dilakukan oleh pihak yang mempunyai keahlian khusus).

Dampak kerugian yang timbul akibat Fraud harus diminimalisir dengan melakukan pencegahan dan pendeteksian sejak dini atas tindakan tersebut, hal ini dilakukan agar tidak menimbulkan banyak kerugian. Pencegahan dan pendeteksian bisa dilakukan dengan bantuan beberapa pihak seperti akuntan (akuntan dalam perusahaan sebagai auditor internal, auditor eksternal, dan auditor forensik). Berikut adalah pencegahan dan pendeteksian Fraud:

1. Corporate Governance dilakukan oleh manajemen yang dirancang dalam rangka mengeliminasi atau setidaknya menekan kemungkinan terjadinya fraud. Corporate governance meliputi budaya perusahaan, kebijakan-kebijakan, dan pendelegasian wewenang.

2. Transaction Level Control Process dilakukan oleh auditor internal, pada dasarnya adalah proses yang lebih bersifat preventif dan pengendalian yang bertujuan untuk memastikan bahwa hanya transaksi yang sah, mendapat otorisasi yang memadai yang dicatat dan melindungi perusahaan dari kerugian.

3. Retrospective Examination dilakukan oleh Auditor Eksternal diarahkan untuk mendeteksi fraud sebelum menjadi besar dan membahayakan perusahaan.

4. Investigation and Remediation dilakukan forensik auditor. Peran auditor forensik adalah menentukan tindakan yang harus diambil terkait dengan ukuran dan tingkat kefatalan fraud, tanpa memandang apakah fraud itu hanya berupa pelanggaran kecil terhdaap kebijakan perusahaan ataukah pelanggaran besar yang berbentuk kecurangna dalam laporan keuangan atau penyalahgunaan aset.

Tindakan pencegahan dinilai sebagai salah satu tindakan yang harus dilakukan, karena dengan tindakan pencegahan berarti dapat mengurangi kerugian. Bayangkan jika fraud sudah terjadi, kerugian yang dihasilkan akan lebih banyak untuk biaya pemulihan kerugian. Namun jika tindakan pencegahan berhasil dilakukan, berarti mengurangi kerugian yang belum dilakukan pelaku fraud.

Kebijakan anti fraud dalam suatu perusahaan juga menjadi salah satu pencegahan dini untuk fraud. Kebijakan ini dibuat sebagai petunjuk bagi karyawan perusahaan mengenai tindakan Fraud, dampak Fraud serta petunjuk pencegahannya. Beberapa kebijakan yang sudah dilakukan perusahaan diantarannya:

1.    Membuat buku pedoman komprehensif

Menjelaskan semua aspek yang berhubungan dengan pihak ketiga dan masyarakat, bertanggung jawab dan profesional.

2.    Menerapkan Enterprise Risk Management (ERM) yang disusun oleh COSO

        Penerapan melalui ERM dengan cara:

         –   Peningkatan kebijakan melalui evaluasi

         –   Peningkatan pemahaman proses bisnis yang efektif

         –  Pelaksanaan pengkajian risiko dan langkah mitigasi

         –  Perlindungan asset melalui penyediaan informasi yang memadai dan akurat